Showing posts with label Ekonomi. Show all posts
Showing posts with label Ekonomi. Show all posts

Jun 13, 2018

Life Changer, Program Terbaru Allianz untuk Millenials

Generasi Millenial tidak bisa lepas dari namanya gadget, mulai dari mencari informasi, update status pribadi, bermain game sampai kepoin mantan hehe benar begitu? Ya benar. Apalagi aku yang justru sebagai millenials juga sehari bisa lebih dari 4 jam menggunakan gadget, kamu kira-kira berapa jam? Pasti lebih dari itu kan?

Namun, mengenai perencanaan keuangan, para millenial juga ada yang belum melek untuk hal ini apalagi perencanaan keuangan melalui asuransi. Seperti fakta berikut dari Allianz bahwa hanya sekitar 31% dari generasi milenial yang punya perencanaan keuangan yang matang dan ada sekitar 13% dari generasi milenial yang tidak memiliki perencanaan keuangan sama sekali. Namun, baru sekitar 2% dari generasi milenial yang memiliki perencanaan keuangan yang baik, memilih asuransi sebagai salah satu instrumen. Lalu generasi milenial lainnya lebih memilih untuk menabung dan berinvestasi pada usaha. Dikarenakan asumsi mereka bahwa premi asuransi masih mahal (52%), kurangnya pengetahuan akan asuransi (45%), kendala kanal distribusi (34%), proses yang sulit (47%), dan alasan pribadi 8%. 

Fakta Masyarakat Millenial dalam mengasumsikan Asuransi. sumber: Allianz Indonesia

Dengan begitu, Allianz sebagai asuransi keluarga Indonesia siap mengedukasi juga menggaet masyarakat millenial mengenai perencanaan keuangan sesuai dengan keinginan para millenial yang ingin dimudahkan dalam segalanya dengan program terbaru dari Allianz yaitu Allianz Life Changer.

Pada Kamis, 7 Juni 2018 aku menghadiri seminar yang diadakan oleh Allianz dengan tema "Life Changer : Capturing the Futur Costumer" bertemat di BUSS HQ, Neo Soho Capital - Jakarta Barat. Acara ini dihadiri oleh Joos Louwerie, Country Manager dan Presiden Direktur Allianz Life Indonesia, Karin Zulkarnaen, Head of Market Management Allianz Indonesia, para Agen Allianz juga media dan blogger.

Diawali dengan sambutan oleh Joos Louwerie, Country Manager dan Presiden Direktur Allianz Life Indonesia ia mengatakan, "Allianz menyadari bahwa perlindungan asuransi maupun perencanaan keuangan yang baik merupakan bagian penting dalam upaya mengubah diri sendiri maupun orang lain (secara finansial). Melalui program Life Changer, Allianz memberikan kesempatan bagi milenial untuk mewujudkan aspirasinya, yakni membangun bisnis yang dapat membawa perubahan positif bagi diri sendiri dan sesama."

Program Life Changer bertujuan untuk menjaring para millenial yang ingin berwirausaha dalam bidang jasa keuangan 
asuransi dan mengembangkan model bisnis yang bisa diwariskan ke generasi berikutnya. Dengan bergabung sebagai Life Changer, millenial bisa membantu melindungi kehidupan masyarakat, mendapatkan peluang bisnis yang besar dan pendapatan yang tidak terbatas.

Kemudian Karin Zulkarnaen, Head of Market Management Allianz Indonesia mengenalkan perilaku dan potensi generasi milenial. Ia mengatakan bahwa para millenial yang tidak bisa lepas dari gadgetnya, ia membutuhkan proses pengenalan asuransi yang lebih baik, tidak suka diprospek dengan cara seperti dikejar-kejar oleh agen asuransi melainkan yang millenials inginkan adalah kemudahan dalam membeli asuransi dengan cara mengakses website atau aplikasi.

Adapun pendekatan para Agen asuransi juga kudu dirubah untuk memudahkan para millenial memahami bentuk asuransi yang ditawarkan melalui pendekatan financial seperti membangun mindset bahwa agen asuransi merupakan seorang wirausaha keuangan, memberi contoh kepada calon agen mengenai cara mengelola keuangan yang baik serta membantu dan meyakinkan bahwa dengan bekerja lebih maka akan pula mendapatkan lebih. Kemudian pendekatan lifestyle seperti cara mengedukasi masyarakat mengenai asuransi yang tidak memaksa dalam menawarkan produk asuransi.



Allianz sebagai asuransi millenial menyiapkan segalanya untuk program Life Changer ini, dengan transaksional mulai dari pengajuan asuransi, pelayanan polis dan klaim yang dapat dilakukan melalui platform digital melalui aplikasi yang disediakan oleh Allianz sehingga dapat mempermudah dalam berasuransi di Allianz. Bukan hanya aplikasi, banyak pula bergbagai kegiatan yang diselenggarakan Allianz untuk menyasar generasi milennials yang sejalan dengan program Life Changer kini seperti setiap sabtu setiap 2 kali dalam sebulannya yang biasa dilaksanakan di Ecopark Allianz Ancol, Eduventure juga Allianz World Run Indonesia.

Apakah kamu tertarik untuk membantu kehidupan masyrakat, memiliki bisnis keuangan yang potensial juga pendapatan yang tidak terbatas? Kamu bisa bergabung dalam program Allianz Life Changer.

Untuk informasi mengenai asuransi Allianz, kegiatan yang Allianz selenggarakan juga program Life Changer, kamu bisa kepoin website juga sosial medianya Allianz.

Web: www.allianz.co.id
Instagram: @allianzindonesia
Twitter: @AllianzID
Facebook: https://web.facebook.com/AllianzIndonesia/
Share:

May 21, 2018

Industri Keuangan Syariah sebagai Wujud Inklusi Keuangan dalam Menyelamatkan Kesejahteraan Bangsa


Republika bekerja sama dengan Prudential Indonesia menggelar acara Rembuk Republik dengan tema Memacu Inklusi Keuangan Syariah di Balroom Hotel JS Luwansa - Jakarta Selatan (14/5). Dihadiri oleh Bambang Brodjonegoro selaku Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Nur Hasan Murtiadji selaku Wakil Pemimpin Redaksi Republika, BoediArmanto selaku Deputi Komisioner Pengawasan Perbankan I OJK, Elba Damhuri juga para panelis Irfan Syauqi Beik selaku Ketua 1 IAEI, Adiwarmanm Karim selaku Wakil Ketua DSN MUI dan Jens Reisch selaku Presiden Direktur Prudential Indonesia serta para Agen Prudential Indonesia dan Media.

dok. istimewa
Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Nasional Republik Indonesia dan dilanjutkan dengan sambutan dari Nur Hasan Murtadji selaku Wakil Pemimpin Redaksi Republik, ia mengatakan bahwa "Penerapan Syariah berjalan dengan prinsip ketuhanan dan serta untuk mengusung pemberdayaan masyarakan dengan ekonomi syariah."

Kemudian dilanjutkan oleh Boedi Armanto selaku Deputi Komisioner Pengawasan Perbankan I OJK yang menjelaskan mengenai peran OJK pada keuangan syariah di Indonesia. Dalam paparannya, ia mengatakan bahwa OJK bertanggung jawab mengawasi industri keuangan syariah seperti asuransi syariah, bank syariah dan bank mikro. Lalu, untuk meningkatkan peran, OJK berkomitmen untuk memperluas penyediaan industri keuangan syariah.

Berdasarkan survei yang dilakukan OJK, pertumbuhan industri keuangan syariah terus meningkat, dimulai dari 20,7 persen pada tahun 2015 hingga 27 persen pada tahun 2017 dengan total aset syariah Indonesia saat ini mencapai Rp 1.118 triliun. Namun, tingkat inklusi keuangan syariah di Indonesia masih rendah, yaitu baru mencapai 11,6 persen. Angka ini cukup jauh di bawah inklusi keuangan nonsyariah yang mencapai 67,82 persen. 

Boedi pun mengatakan, "OJK berharap keuangan syariah di Indonesia kedepannya bisa berkembang pesat dan bisa meningkatkan kontribusi dalam pembangunan nasional, namun tidak akan berhasil jika tidak didukung oleh semua pihak, maka dengan itu kami butuh dukungan semua pihak agar industri keuangan syariah terus tumbuh. Dan lagi kini di zaman yang notabene masyarakat menggunakan tekhnologi, maka demi mempercepat atau menyebarkan informasi mengenai keuangan syariah sangat bisa menggunakan teknologi. dengan begitu, fintech syariah pasti bisa menjadi salah satu percepatan dalam inklusi keuangan."

Hal itu dibenarkan oleh Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, "inklusi keuangan bukan hanya tugas pemerintah saja, melainkan tugas kita dan seluruh pihak, apalagi dengan melihat perkembangan zaman sekarang, penggunaan teknologi digital akan semakin membantu mempercepat inklusi keuangan." 

Lalu ia menjelaskan bahwa "tingkat kemiskinan di indonesia pada tahun 2017 mencapai 26 jt jiwa, dan salah satu cara untuk keluar dari jurang kemiskinan dapat diatasi dengan peningkatan inklusi keuangan. Apalagi dengan keuangan syariah yang saat ini sudah mencapai 5,8% di Indonesia, hal ini cukup membanggakan juga menjadi awal yang baik untuk berkembang lebih lanjut dan menyelamatkan masyarakat miskin dengan inklusi keuangan syariah. Namun jangan terlalu bangga juga dengan jumlah, justru dengan itu kita harus meningkatkan kinerja dalam ekonomi syariah dengan memperhatikan kualitas untuk lebih baik lagi dan untuk mempercepat inklusi keuangan, fintech syariah bisa menjadi jawabannya."

Prudential Indonesia dalam Rembuk Republik

Dengan mayoritas penduduk muslim di Indonesia menjadikan inklusi keuangan secara syariah bisa potential. Keuangan syariah di Indonesia beberapa tahun ini cukup berkembang, mulai dari Bank Syariah hingga Asuransi yang bebentuk Syariah yang cukup diminati oleh masyarakat Indonesia, begitupun dengan salah satu produk Prudential Indonesia yaitu PRUlink Syariah sangat diminati oleh masyarakat Indonesia, bukan hanya muslim saja, tapi juga non muslim pun banyak yang tertarik dengan produk dari Prudential Indonesia ini.

PRUlink Syariah hadir pada tahun 2007, merupakan produk investasi plus asuransi yang sesuai dengan hukum syariah. Produk ini diluncurkan untuk memenuhi kebutuhan umat Islam akan asuransi dan investasi yang sesuai dengan kaidah syariat. Meskipun awalnya dikhususkan bagi masyarakat muslin, namun bagi pemeluk agama non Islam, produk asuransi dan investasi ini tetap sangat menarik dan tetap menguntungkan. Konsep syariah sudah diterima luas di Inggris dan masyarakat Eropa pada umumnya meski mayoritas penduduknya bukan pemeluk Islam. Di samping mendapatkan potensi hasil investasi, produk ini juga akan memberikan perlindungan yang komprehensif terhadap risiko kematian atau risiko menderita cacat total dan tetap. Produk ini memberikan keleluasaan bagi Pemegang Polis untuk memilih investasi syariah yang memungkinkan tingkat pengembalian investasi yang baik di jangka panjang, sesuai dengan kebutuhan dan profil risiko Pemegang Polis. Dan yang membuat nyaman bagi pelanggan PRUlink Syariah adanya konsep syariah yang bisa dipercaya oleh masyarakat muslim.

Jens Reisch Presiden Direktur PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) menjelaskan bahwa "percepatan inklusi keuangan termasuk asuransi syariah harus memanfaatkan teknologi digital. Selain jangkauannya luas, penggunaan teknologi digital dirasa sangat pas untuk masyarakan Indonesia di zaman ini khususnya masyarakat millenial. Namun  hal ini tidak bisa dilakukan pemerintah sendirian, perlu dukungan dari industri keuangan termasuk industri keuangan syariah dan pihak terkait."

Populasi masyarakat Indonesia yang mencapai 260 juta jiwa dengan 87% muslim, baru sekitar 7% nya memiliki polis asuransi jiwa. Kemudian kontribusi syariah baru mencapai 5,8% dari total premi asuransi jiwa dan 6,1% dari total aset asuransi jiwa. Dengan begitu bisa dikatakan bahwa asuransi jiwa syariah tumbuh lebih cepat, lalu supaya masyarakat Indonesia sadar berasuransi dan menggunakan asuransi syariah, maka harus ada perbaikan dalam pelaksanaan menyebarkan informasi mengenai asuransi syariah.

“Kita harus melakukan perubahan ke lebih milenial, mungkin dalam sisi bahasa, instrumen dan teknik pemasaran. Selanjutnya kita juga kudu mengembangkan digital dan investasi dalam suatu penjualan, pelayanan, agen dan nasabah. Kami pun percaya bahwa asuransi syariah di indonesia pasti berkembang pesat karena tahun 2017 saja Prudential Indonesia naik dua digit.” ujar Jens Reisch

Prudential Indonesia pada tahun 2017 membukukan pendapatan kontribusi bruto sebesar Rp3,4 triliun dan juga aset sebesar Rp9,9 triliun atau tumbuh 13%. Sementara peserta baru tumbuh 14%, peserta non muslim tumbuh 98%, dan pengelolaan hasil investasi syariah oleh Asia Pacific Equity Fund mencapai 26,6%.

dok. istimewa

Demi inklusi keuangan dan kesejahteraan ekonomi masyarakat Indonesia, mari kita pacu inklusi keuangan syariah dengan terus mengedukasi masyarakat bersama-sama kebaikan produk dan layanan jasa keuangan syariah, menuju penguatan perekonomian bangsa - Irfan Syauqi Beik, Ketua 1 IAEI (Ikatan Ahli Ekonomi Islam).

#PrudentialIndonesia #PRUlinkSyariah
Share:

Mar 29, 2018

Potensi Berkembangnya Ekonomi Umat Islam di Zaman Now Melalui Filantropi Islam

Islam menganjurkan seorang Muslim untuk berfilantropi agar harta kekayaan tidak hanya berputar di antara orang-orang kaya (QS. al-Hasyr: 7). 

Filantropi Islam meliputi Zakat, Infak, Wakaf dan Sedekah, namun yang akan aku bahas kini adalah Zakat dan Wakaf. Kenapa hanya Zakat dan Wakaf saja, tidak semuanya? Karena kedua hal ini tidak ada dalam konteks Agama lain melainkan hanya Islam saja yang memiliki konteks ini. Dan kedua konteks ini sudah ada pada zaman sejarah islam dulu  dan hasilnya juga masih tercatat hingga kini.

Kamu tahu dong apa itu Zakat? khususnya orang muslim, kalau disinggung mengenai Zakat pasti tahu lah, namun kebanyakan pemahamaman masyarakat lebih tahu zakat itu hanya Zakat Fitrah yang biasa ditunaikan saat Ramadan atau sebelum Idul Fitri, tapi apa kabar dengan Zakat Mal, zakat harta, zakat perniagaan, zakat peternakan dan lainnya yang juga wajib ditunaikan?

Karena perlu kita tahu, eh mungkin kamu juga sudah tahu sebenarnya bahwa zakat merupakan rukun islam yang ketiga setelah syahadat dan shalat, maka jika kita sudah diwajibkan untuk menunaikan zakat, namun kita tidak menunaikannya, bagaimana dengan keislaman kita? Nah lho patut dipertanyakan kan. 

Hmm, 

Nah itu mengenai zakat. Lalu soal wakaf pun, pemahaman masyarakat masih terbatas, karena banyak berpendapat bahwa wakaf itu hanya sebatas memberikan sebidang tanah yang diperuntukan untuk pembangunan masjid, pesantren ataupun kuburan, padahal sebenarnya ada wakaf produktif dimana yang diwakafkan seperti uang, asset, saham dan sebagainya untuk dikelola dalam hal produktif dimana hasil pengelolaannya disalurkan untuk menunjang aktifitas masyarakat.

Dan semua pemahaman diataspun baru aku ketahui setelah mengikuti Lokalatih selama tiga hari dari 27-29 Maret yang diselenggarakan oleh Bimas Islam di Royal Pajajaran Hotel - Bogor. Lokalatih Tunas Muda Agent of Change Ekonomi Syariah yang mengangkat tema "Semangat Zakat Wakaf Generasi Zaman Now Untuk Kebangkitan Ekonomi dan Keuangan Syariah Indonesia"

Acara ini dihadiri oleh Dirjen Bimas Islam Prof. Dr. Muhammadiyah Amin, M.Ag, Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf H. Muhammad Fuad Nasar, Sekertaris Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Drs. H Tarmizi Tohor, MA,  Peneliti Ekonomi Syariah Dr. Ascarya dan Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal Bahrul Hayat Ph. D. Hadir pula narasumber yang kompeten dibidang Digital Martketing seperti Tuhu Nugraha dan Ananto Pratikno juga perwakilan mahasiswa di Bogor dan Blogger.

Diawali oleh H. Muhammad Fuad Nasar yang menjelaskan mengenai Peluang dan Tantangan Zakat Wakaf kini dan mendatang dan ia menyatakan tujuan diadakannya acara ini.

Tujuan diadakannya Lokalatih ini yaitu demi meningkatkan masyarakat generasi zaman now dalam memahami ekonomi syariah di Indonesia, untuk pembentukan karatker generasi Z seperti pemahaman yang baik dalam ekonomi syariah, meningkatkan kesadaran berekonomi syariah juga melahirkan ide-ide dalam perekonomian syariah. 

Setiap kelompok sosial harus mengambil bagian masing-masing dalam pengembangan ekonomi syariah. Namun kebanyakan masyarakat di zaman now justru tidak memperdulikan akan masa depan negara melainkan hanya peduli akan kepentingan dan masa depannya sendiri. Dengan begitu, dengan adanya lokalatih ini, berharap mahasiswa atau pun masyarakat yang paham mengenai zakat bisa menyampaikan bahwa zakat dan wakaf itu penting, dan dengan adanya zakat dan wakaf maka akan berakibat baik pada perkembakan ekonomi umat khususnya Islam.

Kemudian dilanjutkan oleh Drs. H. Tarmidzi Tohor, MA. menjelaskan mengenai Zakat dan Wakaf sebagai Lifestyle. Ia berharap bahwa dengan adanya sosialisasi lokalatih ini bermaksud supaya para mahasiswa dan siapapun yang hadir dalam acara ini bisa menjelaskan kepada masyarakat akibat dari adanya Zakat yang menjadi perbaikan ekonomi umat islam.

Tarmidzi pun mengatakan bahwa potensi pengembangan ekonomi terhadap penangkasan kemiskinan masyarakat Islam Indonesia dimana penduduk Islam di Indonesia yang mencapai 230 jiwa jika semuanya menunaikan zakat dan dibarengi dengan wakaf serta pengelolaan yang benar maka perbaikan ekonomi umat islam akan nyata.

Beberapa kali Tohor mengatakan bahwa dengan berzakat akan ada akibat dalam perbaikan ekonomi umat. Dan untuk diketahui, bahwa tugas Kementrian Agama dalam hal zakat dan wakaf adalah hanya untuk melakukan pembinaan dan pengawasan saja. Soal pengumpulannya dilakukan oleh Baznas atau Lembaga Zakat.

Kementrian Agama juga memulai membangun kampung Zakat dengan memiliki tujuan dalam 3 sektor, seperti sektor perbaikan ekonomi, perbaikan sosial dan perbaikan kehidupan agama.

Di hari kedua dalam lokalatih ini diisi oleh narasumber kece yang pakar dalam bidang Digital Marketing yaitu Tuhu Nugraha dan Ananto Pratikno. Saat sesi Tuhu, ia menjelaskan mengenai bagaimana teknik memviralkan sebuah konten dan karakteristik konten yang sebaiknya diviralkan seperti apa juga dalam pemanfaatan sosial media dalam memviralkan konten mengenai zakat dan wakaf ini. Lalu saat sesi Ananto Pratikno, ia lebih fokus menjelaskan mengenai teknik digital marketing itu sendiri juga cara menginformasikan zakat dan wakaf secara efektif di zaman kekinian. 

Ananto Pratikno juga menerangkan bahwa untuk membuat konten, buatlah konten dengan pesan yang tersampaikan, ada dua hal bisa menggunakan emosional atau humor, yang pasti segalanya harus sesuai dengan kebutuhan audience.

Kembali kepada pembahasan utama diatas yaitu filantropi islam, setelah membahas mengenai zakat, para narasumber juga menjelaskan apa itu wakaf dan bagaimana gabungan antara zakat dan wakaf bisa berpotensi dalam perkembangan ekonomi umat islam.

Secara mudahnya, zakat merupakan hal yang wajib ditunaikan sedangkan wakaf tidak. Ya, memang tidak wajib, tapi jika wakaf benar-benar dilaksanakan dan dikelola dengan baik maka potensi dalam perkembangan ekonomi umat islam sangat besar.

Diakhir acara, hadir Prof. Dr. Muhammadiyah Amin, M.Ag yang menjelaskan rincian potensi zakat dan wakaf untuk perkembangan ekonomi umat. Ia mengatakan bahwa jika semua umat muslim yang mencapai 87% penduduk di Indonesia dikumpulkan untuk menunaikan zakat, maka akan terkumpul hingga total 217 triliun per tahun.
Potensi Zakat di Indonesia berdasar hasil penelitian BAZNAZ-FEM IPB 2010. dok. Kemenag RI

Lalu, apa hubungannya zakat dan wakaf dengan generasi zaman now? nah ini, karena pemahaman masyarakat yang kurang mengenai kedua hal itu, kita sebagai umat muslim zaman now kudu turut membantu meluruskan dalam pemahamannya, bisa dengan cara menginformasikan kebenaran dan manfaat nyata dari keduanya melalui media sosial.

Peserta Lokalatih Tunas Muda Agent of Change Ekonomi Syariah. dok istimewa

Itulah paparan yang bisa aku sampaikan, mungkin kini aku baru bisa menginformasikannya saja mengenai filantropi islam ini, dan kedepannya mari kita sama-sama berkolaborasi dan bergotong-royong untuk mengembangkan revolusi serta rotasi zakat dan wakaf dengan memanfaatkan media sosial yang gratis karena yang sudah aku sampaikan dalam rangkuman lokalatih diatas bahwa Filantropi Islam ini sangat berpotensi pada perkembangan ekonomi umat islam di indonesia.

Baca juga :
Zakat dan wakaf sebagai lifestyle? Siapa takut!
Mendorong Kemajuan Ekonomi Syariah di Era Milenial
Potensi Zakat dan Wakaf


Share: