Showing posts with label Lingkungan. Show all posts
Showing posts with label Lingkungan. Show all posts

Dec 31, 2022

KBA Suntenjaya, Terapkan Pertanian Ramah Lingkungan yang Terintegrasi

Iklim tropis di Indonesia sangat cocok untuk pertanian sayur-sayuran, sehingga mengonsumsi sayur sebagai panganan sehat mudah dilakukan. Namun, produksi sayur organik di Indonesia masih mengalami kendala. Beberapa faktor yang dapat menyebabkan hal ini diantaranya adalah kurangnya informasi tentang cara menanam sayur organik, kurangnya kesadaran akan manfaat menanam sayur organik, dan kurangnya pasar yang mampu membayar harga yang lebih tinggi untuk sayur organik. 


Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah ini adalah dengan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya mengonsumsi sayur organik, serta meningkatkan akses terhadap informasi dan teknologi yang dibutuhkan untuk menanam sayur organik. 

Seperti yang dialami oleh masyarakat di KBA Suntenjaya, mayoritas petani di sana sebelumnya bertani dengan sistem anorganik dan menggunakan pupuk pestisida. Namun, setelah diberikan edukasi yang tepat, petani tersebut perlahan mulai bertani dengan terapkan pertanian ramah lingkungan.

Sambutan Hangat Masyarakat Desa Suntenjaya

Pada 26/11/2022, Astra mengadakan Workshop Lingkungan 2022 untuk berkunjung ke KBA Suntenjaya, Bandung Barat, Jawa Barat, bersama wartawan, blogger juga internal Astra.

Desa Suntenjaya berdiri di atas perbukitan dengan ketinggian 1400 Mbpl di atas permukaan laut. Saat tiba menginjakan kaki di Desa Suntenjaya, udara sejuk menyambut dengan penuh gembira, juga sambutan hangat masyarakat menyajikan panganan nikmat membuat kami bahagia, begitupun dengan tarian dari sanggar seni setempat yang juga ceria.


Kata sambutan dari pengurus KBA Suntenjaya satu persatu disampaikan, yang cukup jadi perhatian saya yakni Gunawan Azhari berkali-kali mengucapkan terima kasihnya atas bantuan Astra untuk menjadikan KBA Suntenjaya semakin maju dan sejahtera.

Kampung Berseri Astra (KBA) menjadi salah satu program Astra untuk mengajak masyarakat berinisiatif dan berkolaborasi dalam melakukan perubahan demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Mulai dari pendidikan, kesehatan, lingkungan, hingga kesejahteraan.

Tahun 2019, Astra memberikan bantuan untuk KBA Suntenjaya berupa solar panel 5000 Watt dan tandon berkapasitas 5000 liter untuk menampung air hujan sebagai cadangan air. Dari bantuan itulah, Gunawan Azhari percaya diri dan berkomitmen membuat KBA Suntenjaya untuk lebih sejahtera.

Kegigihan Gunawan, Ajak Petani Desa Suntenjaya Menjadi Jaya

Mimpi Gunawan adalah memiliki masyarakat yang sehat di Desa Suntenjaya dengan mengadopsi pertanian organik. Ia mengalami kesulitan dalam mengajak petani untuk beralih ke pertanian organik, tetapi setelah petani melihat hasil panen yang lebih segar dan sehat, mereka akhirnya bersedia untuk menerapkannya. Gunawan juga menginginkan masyarakat yang awalnya bekerja sebagai buruh tani menjadi petani mandiri.


Kemudian setelah kehadiran Astra, dan Desa Suntenjaya menjadi binaan Astra sebagai Kampung Berseri Astra, Gunawan dan warga di sana terbantu dan petani pun beralih dari pertanian anorganik dan terus mengembangkan pertanian ramah lingkungan yang berkelanjutan.

Penerapan sistem pertanian terintegrasi yang ramah lingkungan yang dijalankan di KBA Suntenjaya menggunakan metode vermicomposting yang dikenal sebagai "kascing" untuk mengubah kotoran hewan menjadi pupuk organik. Pupuk organik tersebut kemudian digunakan oleh warga untuk budidaya sayuran yang ramah lingkungan. Limbah pertanian juga dapat digunakan sebagai pakan ternak dan dikompos menjadi pupuk organik.

Penerapan pertanian tanpa limbah (zero waste) ini tidak hanya ramah lingkungan, tapi juga dapat meningkatkan pendapatan petani karena mengurangi biaya pakan ternak dengan memanfaatkan limbah sayur sebagai pakan dan limbah ternak sebagai pupuk organik untuk sayuran.

Selain itu, masyarakat Desa Sutenjaya juga memanfaatkan pekarangan rumahnya, meskipun terbatas tapi bisa masyarakat dapat menanam berbagai tanaman, seperti tanaman hias, tanaman herbal, hingga tanaman konsumsi. Sehingga suasana yang asri, dan udara segar tercipta di setiap rumah, tidak hanya di perkebunan saja.

Gunawan juga telah berhasil mengubah perilaku masyarakat di Desa Suntenjaya dari menggunakan bahan kimia menjadi organik selama tiga tahun. Ini telah menghasilkan produk UKM yang dibuat bersama-sama oleh masyarakat, seperti keripik, kopi, lemon kering, sampai permen karamel.



Desa Suntenjaya juga telah menjadi desa wisata yang dipromosikan oleh Kementerian Pariwisata Indonesia. Melalui tindakan kecil ini, Gunawan telah berhasil membawa dampak besar bagi lingkungan juga masyarakat, terutama di Bandung Barat yang merupakan wilayah serapan air yang memasok kebutuhan air bagi warga Bandung dan sekitarnya.

Tak hanya itu, Desa Suntenjaya juga akan dikembangkan menjadi desa eduwisata, di mana pengunjung dapat belajar langsung tentang pertanian ramah lingkungan, memetik hasil panen secara langsung, dan membeli produk UKM yang dibuat oleh warga setempat. Dengan demikian, pertanian ramah lingkungan dapat memberikan kesejahteraan bagi para petani dan peternak di Desa Suntenjaya.


Kita harap semangat menerapkan pertanian ramah lingkungan ini terus berlanjut hingga generasi selanjutnya dan bisa menginspirasi petani lain di Indonesia untuk menjaga keseimbangan alam. Hal ini pun sejalan dengan semangat Astra terhadap dukungannya melalui Kampung Berseri Astra Suntenjaya menjadi kampung yang hijau, produktif, sejahtera, mandiri dan berkelanjutan.

Share:

May 22, 2022

Kurangi Basa-basi, Ubah Narasi Jadi Aksi

Kurangi Basa-basi, Ubah Narasi Jadi Aksi. Bumi sedang tidak baik-baik saja, salah satunya di Bogor tempat tinggal mamang saat ini, yang biasanya di musim penghujan ya hujan saja, kini suasana di Bogor tidak karuan. Siang hari dengan panas terik ngablentrang, dan sore ke malam hari tetiba hujan terus-terusan.

Jadi, kalau janjian ketemu temen atau doi suka berantakan, karena siangnya terlalu terik jadi malas keluar kosan, ehh pas mau berangkat sore tetiba hujan hingga ketemuan dibatalkan.

Gagal nih dapet jodoh.

Ehh

Skip.

Kembali ke masalah utama bahwa keadaan bumi saat ini merupakan masalah bersama, bukan masalah satu atau dua pihak, tapi kita harus beresin masalah ini sama-sama, karena dampaknya juga akan dirasakan semua. Bukan berdampak pada lingkungan saja, pada diri kita, juga keberlangsungan makhluk hidup yang ada.


Tidak perlu memikirkan bongkahan es yang ada di Antartika sana, justru kita harus pikirkan yang ada di sekitar kita, karena jika sudah diatasi di lingkungan kita, dampaknya juga bisa menyebar dan mudah-mudahan bumi kembali baik.

Beberapa orang mungkin punya gerakan sendiri, salah satunya aku yang menggunakan angkutan umum jika jarak ke tujuan yang cukup jauh, atau bersepeda jika jarak tujuan masih kuat untuk ditempuh, karena dengan naik transportasi umum, kita sudah bisa berkontribusi untuk kurangi gas emisi.

Bersyukur aku tidak sendiri, banyak orang yang juga masih naik transportasi umum, juga beberapa orang melakukan gerakan lain untuk bumi kembali baik, seperti Bapak Sisyantoko yang akrab disapa Cak Toko yang aktif sebagai penggiat lingkungan hidup di daerah Jawa Timur, dan sekarang menjabat sebagai Direktur Wahana Edukasi Harapan Alam Semesta (WEHASTA), dan Ibu Monica Tanuhandaru dengan kepeduliannya terhadap lingkungan, terutama tanaman bambu, membuat beliau tergerak mendirikan yayasan yang diberi nama Yayasan Bambu Lestari.

Bukan basa-basi, justru penuh dengan aksi

Kita kenalan dulu dengan WAHESTA (Wahana Edukasi Harapan Alam Semesta), Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak di bidang lingkungan, dengan visi untuk menjadikan masyarakat lebih peduli, sadar, dan berdaya upaya mandiri untuk melakukan kegiatan-kegiatan lingkungan hidup berkelanjutan. Selain  permasalahan lingkungan, WAHESTA juga giat melakukan edukasi pada anak-anak terkait lingkungan, serta berkolaborasi dengan para ibu untuk mengatasi permasalahan lingkungan.


Yang dilakukan Cat Toko cukup sederhana, tapi brilian. Yakni memilah sampah di rumah dan membuat kompos di rumah. Program Bank Sampah yang cukup berhasil berbasis di Surabaya. Namun keresahan beliau dengan kampung halamannya di Mojokerto yang justru Bank Sampahnya kurang terperhatikan. Hingga akhirnya beliau bergerak untuk mengembangkan Bank Sampah yang ada di kampung halamannya di Mojokerto.

Begitupun Yayasan Bambu Lestari yang merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat non-profit, bergerak di bidang peningkatan kualitas bambu untuk kehidupan dan kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan, dengan berbasis pada pemberdayaan masyarakat. Yayasan yang berbasis di Bali dan berafiliasi dengan International Bamboo Foundation (IBF) di Amerika Serikat dan Belanda ini juga melindungi hutan tropis dengan cara mempromosikan dan mengangkat beragam kegiatan konservasi, dan peluang pengembangan melalui bambu.

Bambu yang digaungkan kelestariannya oleh Ibu Monica mempunyai nilai keutamaan lingkungan, keutamaan sosial budaya, dan keutamaan ekonomi. Di beberapa daerah, bambu banyak dimanfaatkan untuk kelengkapan hidup sehari-hari, mulai dari bangunan, perabotan rumah, kandang ternak, pagar, hingga diolah jadi makanan. Sedangkan bagi Ibu Monica, pemanfaatan bambu bisa lebih dari itu, karena selain untuk menangkar air hujan dan menghindari kelongsoran tanah, bambu punya nilai ekonomi yang cukup tinggi, karena bisa bisa disulap menjadi barang furniture, pengganti frame sepeda, hingga kayu rendah karbon untuk pemanfaatan bahan bangunan.

Cut The Tosh, Ubah Narasi Jadi Aksi

Selain orang-orang yang disebutkan di atas, nyatanya perubahan dengan aksi digaungkan juga oleh salah satu perusaan terkenal dengan minuman bir nya, yakni Multi Bintang Indonesia (MBI), dengan gerakan Cut The Tosh sebagai penghubung bagi berbagai pihak yang aktif dalam melaksanakan praktik keberlanjutan dan turut menyorot pentingnya kolaborasi.


Gerakan ini dilatarbelakangi karena banyaknya narasi di luar sana, dengan impian yang terlalu jauh, hingga tenggelam dan terhenti begitu saja. Dengan gerakan Cut The Tosh mengingatkan diri kita bahwa wacana dan perkataan tidak memiliki makna apa-apa tanpa adanya aksi nyata. Sehingga gerakan ini mengajak kita untuk terus konsisten melakukan perubahan demi menjawab permasalahan yang ada untuk kebaikan lingkungan di sekitar kita.

Ika Noviera, Direktur Corporate Affairs Multi Bintang Indonesia mengatakan bahwa “Cut the Tosh mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk mengubah narasi jadi aksi. Harapan kami, gerakan ini dapat mendorong upaya kolektif dari para pemangku kepentingan, untuk bersama-sama menciptakan kolaborasi yang bermakna untuk meningkatkan skala dan dampak dari praktik keberlanjutan,” 

Seperti yang mamang sampaikan di atas, bahwa banyak permasalahan rusaknya bumi turut menjadi perhatian kita, begitupun Multi Bintang Usaha dengan gerakan Cut The Tosh, dimana masalah yang kerap ada di Indonesia seperti penebangan hutan secara sembarangan, over population yang tinggal di daerah bantaran sungai, sampah-sampah yang mengendap di sungai, serta banyak lagi permasalahan lingkungan lainnya.

Demi menuntaskan masalah tersebut, yang dibutuhkan yakni kolaborasi antar sesama, hingga semua pihak demi benar-benar terwujudnya bumi kembali membaik.

Cut The Tosh memiliki rangkaian kegiatan sebagai berikut:

- Tipple Talk, forum untuk membicarakan isu seputar lingkungan, sosial, dan responsible consumption. 

- Sustainability Competition/CTT Incubators, yakni inkubator ide-ide briliant dan inovasi terkait keberlanjutan dari seluruh mahasiswa Indonesia. 

- CTT 3 Days Summit, yang akan mengundang berbagai penggerak dan pendobrak yang telah berkontribusi dalam ‘meracik Indonesia yang lebih baik’ dengan cara belajar bersama dalam merancang kolaborasi yang lebih berdampak.


Selain kegiatan di atas, adapyn upaya yang sudah dilakukan oleh MBI ialah sebanyak 28 % dari total konsumsi energi di fasilitas produksi MBI berasal dari sumber energi terbarukan, termasuk pemanfaatan biomassa. Kemudian MBI menargetkan sebanyak 100 % total konsumsi energi di fasilitas produksi tersebut dapat menggunakan energi terbarukan dengan menerapkan tenaga surya tahun 2025 mendatang.

Selain itu, pihaknya juga telah menggandeng komunitas lokal melalui program pembinaan bank sampah seperti WAHESTA.

Sampai saat ini, Ika menyebut sudah ada lebih dari 300 unit bank sampah yang tersebar di Tangerang dan Mojokerto, yang berjalan secara mandiri dan memberikan manfaat kepada sekitar 28.000 orang.

Kemudian karena air merupakan 95% dari pembuatan bir, Multi Bintang Indonesia tentunya memperhatikan pengelolaan air, juga mencakup berbagai inisiatif yang dilakukan dari hulu hingga hilir, mulai dari penghijauan hutan, hingga pembangunan waste trap yang berfungsi sebagai penangkap sampah agar tidak mengalir di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) hingga ke laut.

Multi Bintang Indonesia pun menyadari bahwa berbagai upaya tersebut masih menjadi sebuah langkah kecil dalam mengatasi berbagai masalah lingkungan. Sehingga lewat gerakan ini diharapkan akan semakin banyak pihak yang berkolaborasi untuk membawa dampak yang lebih besar bagi lingkungan.

Mari sama-sama berkolaborasi untuk bumi kembali membaik.

Share: